Melina, Founder Godhong Etnik: Membangun Ruang Berkarya bagi Perempuan Indonesia Lewat Wastra dan UMKM

CNUSANTARANEWS.COM|Jakarta – Di tengah pesatnya perkembangan industri kreatif, Melina, pendiri Godhong Etnik, memilih jalan yang berbeda. Bagi dirinya, bisnis bukan semata mengejar keuntungan, tetapi menjadi sarana pemberdayaan perempuan agar berani memulai usaha, mandiri secara ekonomi, serta mencintai budaya Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Melina dalam talkshow “Dari Perempuan untuk Wastra & Kerajinan Indonesia” yang digelar dalam rangka Ladies Week di Lippo Mall Nusantara, Jakarta, Rabu (5/8/2026). Dalam kesempatan itu, ia berbagi perjalanan panjang membangun komunitas kreatif sekaligus mendampingi pelaku UMKM perempuan sejak 2008.

Menurut Melina, perempuan memiliki potensi besar untuk menjadi pelaku usaha, bahkan dari rumah dengan modal sederhana.

“Jangan takut sebelum mencoba. Kalau kita belum mencoba, kita tidak akan pernah tahu apakah kita bisa berhasil atau tidak. Yang penting mulai dulu,” ujar Melina.

Pesan sederhana tersebut lahir dari pengalaman pribadinya yang tidak selalu mulus. Ia mengaku pernah mengalami kegagalan dalam bisnis, mulai dari ditipu hingga ditinggalkan rekan usaha.

“Saya pernah mengalami partner kabur. Saat itu saya sempat berhenti sejenak karena kondisi mental memang sedang tidak baik. Tetapi setelah itu saya bangkit lagi dan melanjutkan apa yang saya cintai,” katanya.

Membangun Ekosistem UMKM Perempuan

Sejak 2008, Melina aktif menyelenggarakan bazar, pameran, workshop, dan talkshow yang berfokus pada pemberdayaan perempuan.

Melalui Godhong Etnik, ia membuka ruang bagi pelaku UMKM untuk memasarkan produknya sekaligus belajar mengenai kewirausahaan.

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya menjadi tempat berjualan, tetapi juga wadah saling belajar dan memperluas jaringan.

“Kita ingin perempuan menjadi kreatif. Kalau belum punya modal besar, mulailah dari rumah. Bisa membuat makanan, kerajinan, atau apa pun yang memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.

Melina menilai usaha rumahan mampu menjadi penopang ekonomi keluarga sekaligus meningkatkan kepercayaan diri perempuan.

Tidak Memungut Bagi Hasil

Berbeda dengan sebagian penyelenggara bazar komersial, Melina mengaku tidak membebankan biaya bagi hasil kepada pelaku UMKM yang bergabung dalam berbagai kegiatan yang ia selenggarakan.

Menurutnya, filosofi utama kegiatan tersebut adalah membantu usaha kecil berkembang.

“Banyak yang bertanya apakah harus bagi hasil. Saya bilang tidak. Saya ingin mereka berkembang. Kalau mereka baru memulai usaha kecil, saya ingin mendukung mereka,” katanya.

Untuk beberapa kegiatan tertentu memang terdapat biaya operasional, namun ada pula program yang diberikan secara gratis sesuai kebutuhan acara.

Terbuka untuk Semua Komunitas Kreatif

Melina juga membuka kesempatan bagi berbagai komunitas kreatif untuk bergabung dalam kegiatan yang diinisiasi Godhong Etnik.

Tidak hanya pelaku wastra Nusantara, tetapi juga komunitas kerajinan tangan, rajut, aksesori, hingga pelaku daur ulang dan ekonomi kreatif lainnya.

“Kami welcome untuk siapa saja yang ingin bergabung. Informasi kegiatan biasanya diumumkan melalui Instagram dan media sosial kami,” jelasnya.

Mengangkat Wastra sebagai Identitas Bangsa

Dalam talkshow bertajuk “Dari Perempuan untuk Wastra & Kerajinan Indonesia”, Melina menegaskan pentingnya menjadikan wastra Nusantara sebagai bagian dari gaya hidup modern tanpa meninggalkan nilai budaya.

Ia percaya pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat melalui produk-produk kreatif berbasis kearifan lokal.

Semangat tersebut sejalan dengan semakin berkembangnya industri fesyen dan kerajinan Indonesia yang mendorong penggunaan kain tradisional, produk handmade, serta kolaborasi dengan pelaku UMKM kreatif sebagai bagian dari penguatan ekonomi kreatif nasional.

Inspirasi dari Ketekunan

Kini, setelah lebih dari satu setengah dekade aktif membangun ruang bagi perempuan pelaku usaha, Melina tetap memegang prinsip yang sama: keberhasilan selalu diawali keberanian untuk mencoba.

Ia berharap semakin banyak perempuan Indonesia yang tidak ragu memulai usaha, sekecil apa pun.

“Semua bisnis pasti ada suka dukanya. Yang membedakan adalah apakah kita mau bangkit lagi atau berhenti. Saya memilih terus berjalan.”

Dengan konsistensinya membangun jejaring UMKM, mengangkat wastra Nusantara, dan memberikan ruang bagi perempuan untuk berkembang, Melina melalui Godhong Etnik menunjukkan bahwa kewirausahaan dapat menjadi gerakan sosial yang melahirkan dampak nyata bagi pemberdayaan ekonomi perempuan Indonesia.

Reporter Sri Supraptiningsih