ASAP KARHUTLA SELIMUTI PALEMBANG, IQAIR CATAT AQI 597 KATEGORI BERBAHAYA

ASAP KARHUTLA SELIMUTI PALEMBANG, IQAIR CATAT AQI 597 KATEGORI BERBAHAYA

CITRA NUSANTARA NEWS | PALEMBANG, SABTU (3 OKTOBER 2026) — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian serius di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Kondisi kualitas udara yang memburuk menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan.

 

Berdasarkan tangkapan layar pemantauan IQAir yang diakses pada Sabtu (3/10/2026) pukul 09.00 WIB, indeks kualitas udara Palembang tercatat mencapai 597 AQI US dengan kategori “Berbahaya”. Sementara itu, konsentrasi polutan utama PM2.5 mencapai 374 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

 

Angka tersebut menunjukkan tingginya konsentrasi partikel halus di udara yang berpotensi masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Kondisi ini menjadi peringatan bagi masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan membatasi paparan udara tercemar.

 

Asap Karhutla Jadi Perhatian Serius

 

Dugaan dampak asap karhutla terhadap kualitas udara Palembang sejalan dengan peringatan BMKG Sumatera Selatan mengenai potensi peningkatan titik panas selama periode kering.

 

Dalam informasi iklim yang diterbitkan pada 30 September 2026, BMKG memperingatkan bahwa sebagian besar wilayah Sumatera Selatan diprakirakan mengalami curah hujan rendah pada dasarian pertama Oktober. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kemunculan titik panas di daerah rawan karhutla.

 

Situasi ini membuat upaya pencegahan kebakaran, pemantauan titik api, serta penanganan sumber asap perlu terus diperkuat oleh pihak terkait. Namun, sumber kebakaran yang secara langsung menyebabkan angka pencemaran pada waktu pemantauan tersebut tetap memerlukan verifikasi lapangan.

 

Indeks Diprakirakan Menurun, tetapi Risiko Belum Berakhir

 

Dalam tangkapan layar IQAir yang sama, prakiraan per jam menunjukkan indeks AQI diperkirakan turun dari 597 pada pukul 09.00 menjadi 562 pukul 10.00, 527 pukul 11.00, 493 pukul 12.00, dan 458 pukul 13.00 WIB.

 

Meski menunjukkan tren penurunan, seluruh angka prakiraan tersebut masih berada dalam rentang kategori berbahaya berdasarkan skala AQI US. Data tersebut merupakan prakiraan, bukan hasil pengukuran aktual pada jam-jam berikutnya.

 

Karena itu, masyarakat diimbau tidak menjadikan penurunan angka prakiraan sebagai alasan untuk mengabaikan risiko pencemaran udara.

 

Masyarakat Diimbau Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

 

Dalam kondisi kualitas udara berbahaya, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan, menutup pintu dan jendela ketika udara luar tercemar, serta menggunakan penyaring udara dalam ruangan jika tersedia.

 

Apabila harus beraktivitas di luar, gunakan respirator yang sesuai, seperti N95 atau KN95, dan pastikan terpasang rapat. Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit jantung atau paru-paru perlu mendapat perhatian khusus.

 

Warga yang mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gejala berat lainnya disarankan segera mencari pertolongan medis.

 

Perlu Penanganan Terpadu

 

Kondisi ini menjadi pengingat pentingnya penanganan karhutla secara terpadu, mulai dari deteksi dini titik panas, pemadaman di lokasi kebakaran, penegakan larangan pembakaran lahan, hingga penyampaian informasi kualitas udara yang akurat kepada masyarakat.

 

Pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan terus menyampaikan perkembangan penanganan karhutla dan kondisi kualitas udara secara berkala agar masyarakat dapat mengambil langkah perlindungan yang tepat.

 

Citra Nusantara News akan terus memantau perkembangan kondisi kualitas udara di Palembang dan wilayah Sumatera Selatan, termasuk langkah penanganan karhutla serta imbauan resmi bagi masyarakat. (Red/key)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *