
CNusantaranews.com|JAKARTA — Perundungan atau bullying masih menjadi persoalan serius yang terjadi di berbagai lingkungan, mulai dari keluarga, hingga lingkungan masyarakat dan dunia kerja. Fenomena tersebut dinilai tidak boleh lagi dianggap sebagai sekadar candaan karena dapat memberikan dampak terhadap kondisi mental korban.
Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar dan Talkshow Anti-Bullying yang digelar di kawasan Cipinang Indah, Jakarta, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Dr. Lidwina Inge Tjahyono, S.H., M.Si. dari Universitas Indonesia, Roni Mepet selaku sutradara dan produser film, serta Farid Ongky artis Nasional serta Pak Edo sebagai pemerhati pendidikan anti bulying.
Dalam kesempatan tersebut, Roni Mepet, sutradara dan produser film yang mewakili PH Menara Sinema, Ketua Divisi Penyutradaraan KFT dan pengajar di Citra Film School, menyampaikan gagasan untuk mengangkat persoalan bullying ke dalam sebuah karya film.
Menurut Roni, film tersebut memiliki misi khusus, yakni memberikan edukasi kepada masyarakat Indonesia mengenai bahaya perundungan sekaligus mengajak semua pihak menghentikan bullying di mana pun terjadi.
“Visi misinya Menara Sinema bikin film ini, pastinya ada pesan yang sangat spesial buat masyarakat Indonesia. Karena dengan maraknya perundungan atau bullying di mana-mana, baik di lingkungan keluarga, sekolah, lingkungan rumah dan sekitarnya, memang ini harus dihentikan,” ujar Roni.
Ia mengatakan, bullying pada awalnya terkadang terlihat seperti sebuah candaan. Namun, ketika sudah berlebihan dan menyakiti seseorang, tindakan tersebut tidak dapat lagi disebut sebagai candaan.
“Kalau sudah keterlaluan, ya itu bukan bercanda lagi karena menyakiti, akan menyakiti hati seseorang,” katanya.
Roni menilai, perkembangan teknologi dan penggunaan gawai juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam persoalan perundungan. Menurutnya, masyarakat saat ini sangat dekat dengan telepon seluler dan berbagai informasi yang dapat memengaruhi perilaku anak-anak.
Karena itu, film yang sedang dipersiapkan tersebut diharapkan dapat menjadi media edukasi yang menggambarkan persoalan bullying yang memang terjadi di tengah masyarakat.
“Tujuan dari film ini memberikan edukasi-edukasi. Ini kan kisah yang memang ada di mana-mana saat ini di masyarakat kita,” ujar Roni.
Bullying dan Perbedaan Status Sosial
Roni juga menyinggung persoalan bullying yang dapat terjadi akibat perbedaan kondisi ekonomi dan status sosial di lingkungan sekolah.
Ia menggambarkan adanya anak dari keluarga kurang mampu yang bersekolah bersama anak-anak dari keluarga yang lebih berada. Perbedaan tersebut dapat membuat seorang anak menjadi sasaran perundungan dan bulan-bulanan teman-temannya.
Menurut Roni, kondisi semacam itu menunjukkan bahwa bullying bukan persoalan sederhana. Anak yang menjadi korban dapat mengalami tekanan secara terus-menerus sehingga berdampak terhadap kondisi mentalnya.
Karena itu, ia menilai tema bullying sangat menarik dan penting untuk diangkat menjadi film agar masyarakat dapat melihat persoalan tersebut dari sisi korban maupun lingkungan sekitarnya.
Diharapkan Bisa Disosialisasikan ke Sekolah
Roni berharap film tersebut nantinya dapat disosialisasikan secara luas, khususnya ke sekolah-sekolah. Bahkan, ia berharap ada kerja sama dengan pihak pemerintah dan lembaga pendidikan agar film tersebut dapat menjadi bagian dari edukasi mengenai bahaya bullying.
“Harapan saya, kalau kita bisa bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan maupun sekolah-sekolah, harusnya film ini bisa wajib nonton,” kata Roni.
Ia bahkan membayangkan film tersebut dapat diputar secara bersama-sama oleh sekolah sebagai bagian dari sosialisasi. Menurutnya, pesan yang dibawa film harus dapat menjangkau masyarakat secara luas, bukan hanya di satu daerah.
“Jangan hanya di sini. Seluruh Indonesia supaya tahu bahwa ini ada film baik tentang pembullyan yang mana pesannya sangat edukasi,” ujarnya.
Melibatkan Banyak Pihak
Menurut Roni, upaya menangani persoalan bullying membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Selain dunia pendidikan, lembaga yang memiliki perhatian terhadap perlindungan anak juga dinilai memiliki peran penting.
Ia menyebut pernah berdiskusi dengan Kak Seto mengenai persoalan anak. Menurut Roni, anak merupakan kelompok yang sangat rentan sehingga membutuhkan perhatian dan perlindungan dari berbagai lembaga terkait.
Dalam film yang direncanakan tersebut, isu perlindungan anak dan bullying juga akan menjadi bagian dari pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat.
Perubahan Mental Tidak Bisa Instan
Ketika ditanya apakah film tersebut dapat membantu mencegah kerapuhan mental siswa dan mahasiswa, Roni mengatakan dampaknya diharapkan dapat dirasakan setelah masyarakat menyaksikan film tersebut.
Namun, ia menegaskan perubahan karakter dan mental anak tidak dapat terjadi secara instan. Semuanya membutuhkan proses dan dilakukan secara bertahap.
“Harusnya sih seperti itu. Tapi bagaimana nanti ketika film ini selesai, kalau bisa nonton film ini, dampaknya kalau mereka nonton film ini, mereka pasti akan sangat berdampak. Sangat berdampak karena memang ini kan mental,” ujarnya.
Menurut Roni, perubahan karakter anak membutuhkan proses yang tidak sebentar. Karena itu, film hanya menjadi salah satu sarana untuk membuka kesadaran, sementara pendidikan dan pendampingan harus dilakukan secara berkelanjutan.
Target 3 Juta Penonton
Roni mengungkapkan bahwa film tersebut juga memiliki target penonton yang cukup besar. Ia menargetkan film bertema bullying itu dapat disaksikan hingga 3 juta penonton.
“Target penonton, 3 juta penonton,” kata Roni.
Ia berharap film tersebut dapat diterima masyarakat dan menjadi salah satu karya yang memberikan dampak positif bagi upaya pencegahan bullying di Indonesia.
Roni juga menegaskan bahwa membuat film bukan sekadar pekerjaan baginya. Dunia perfilman telah menjadi bagian dari perjalanan hidup dan hobinya sejak duduk di bangku SMA.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan mengambil jurusan perfilman, sesuai dengan cita-citanya untuk berkarya di dunia film.
“Ini adalah pekerjaan buat saya, bukan sekadar berkarya, tapi sudah hobi. Sudah hobi sejak SMA,” ungkapnya.
Dengan pengalaman tersebut, Roni berharap karya film bertema bullying yang tengah dipersiapkan dapat menjadi tontonan yang sekaligus memberikan edukasi dan mendorong perubahan perilaku.
Ia pun berharap produksi film tidak berhenti pada satu karya saja dan dapat terus berlanjut dengan menghadirkan film-film yang membawa pesan sosial bagi masyarakat.
Seminar dan Talkshow Anti-Bullying di Cipinang Indah menjadi momentum untuk kembali mengingatkan bahwa perundungan bukan persoalan yang boleh dibiarkan. Sekolah, keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, pekerja seni, serta lembaga perlindungan anak memiliki peran masing-masing dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak dan generasi muda.
Melalui film, edukasi dan sosialisasi yang dilakukan secara berkelanjutan, pesan untuk menghentikan bullying diharapkan dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
Pesan Roni sederhana namun tegas: bullying harus dihentikan, dan perjuangan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tidak boleh berhenti.
Reporter Sri Supraptiningsih

