CNusantaraNew.Com |JAKARTA, 8 Agustus 2026 – Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya bullying atau perundungan terus dilakukan melalui kegiatan edukatif yang melibatkan pelajar, guru, orang tua, dan masyarakat.
Hal tersebut mengemuka dalam Talk Show & Seminar Anti-Bullying bertema “Bersatu Lawan Bullying, Bersama Ciptakan Generasi Hebat” yang digelar dalam rangka Road Show & Open Casting Film Aku Bukan Musuhmu, Tapi Aku Sahabatmu di Cipinang Indah Mall, Jakarta Timur, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 10.00 WIB tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Dr. Lidwina Inge Nurtjahyo, S.H, M.Si., Wage Wardana, M.Pd, Farid Ongky, serta Aqueen Anwar,Pak Edo,Roni Mepet.
Dalam sesi diskusi, Dr. Inge menekankan pentingnya penanganan bullying dilakukan sejak usia sekolah. Menurutnya, masa sekolah merupakan periode yang sangat penting karena karakter, kebiasaan, dan perilaku anak masih dalam proses pembentukan.
Ia menilai gerakan anti-bullying sangat tepat apabila dimulai sejak usia sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama.
“Kalau gerakan anti-bullying ini justru dimulai di masa SD kelas 3 sampai kelas 6, SMP kelas 1 sampai kelas 3, saya pikir dari segi usia itu sangat tepat,” ujar Dr. Inge.
Tiga Harapan dalam Gerakan Anti-Bullying
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Inge juga menyampaikan sejumlah harapan terkait upaya pencegahan bullying.
Pertama, ia berharap gerakan anti-bullying benar-benar dimulai dan diperkuat sejak anak berada pada usia sekolah, khususnya tingkat SD dan SMP. Menurutnya, usia tersebut merupakan masa ketika anak sedang membentuk kebiasaan, karakter, serta perilakunya.
“Justru dengan melibatkan teman-teman SMP sangat tepat. Mereka berada di usia remaja yang sedang terbentuk, kebiasaan, habit, dan perilakunya juga sedang mencari model,” jelasnya.
Kedua, Dr. Inge berharap para siswa maupun guru tidak lagi menganggap bullying sebagai persoalan sepele atau sekadar candaan.
Ia meminta para guru lebih serius merespons ketika seorang siswa menyampaikan ketidaknyamanan akibat perlakuan maupun perkataan teman.
“Harapan saya adalah teman-teman pada usia SMP ini, kemudian juga para guru, mulai melihat bullying itu bukan sesuatu yang dianggap remeh. Ini sebenarnya adalah satu hal yang sangat penting,” katanya.
Menurutnya, dampak bullying tidak hanya berkaitan dengan rasa rendah diri, tetapi dapat memberikan pengaruh serius terhadap kondisi psikologis anak. Karena itu, laporan atau keluhan siswa mengenai tindakan perundungan perlu mendapatkan perhatian dan penanganan secara serius.
Ketiga, Dr. Inge berharap film Aku Bukan Musuhmu, Tapi Aku Sahabatmu dapat menjadi media edukasi sekaligus motivasi bagi generasi muda.
“Harapan yang ketiga adalah supaya film ini bisa jadi motivasi untuk teman-teman muda, bukan hanya remaja, tapi juga teman-teman muda pada umumnya,” ujarnya.
Psikologi Dinilai Penting Masuk dalam Penanganan Bullying
Dr. Inge juga menilai pendekatan psikologi perlu diperkuat dalam upaya pencegahan dan penanganan bullying, baik melalui psikologi klinis maupun psikologi pendidikan.
Menurutnya, pemahaman psikologis penting agar persoalan bullying tidak hanya ditangani setelah kasus terjadi, tetapi juga dapat dicegah sejak awal.
Ia juga menyinggung perlunya penguatan sistem penanganan kekerasan di lingkungan pendidikan. Saat ini, menurutnya, sudah terdapat berbagai upaya pembentukan tim penanganan kekerasan di sekolah maupun perguruan tinggi, namun implementasinya masih perlu terus diperkuat dan disinergikan.
Selain itu, keterjangkauan layanan juga menjadi tantangan. Di sejumlah daerah, unit pelayanan harus menjangkau wilayah yang luas sehingga membutuhkan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit.
Media Massa Punya Peran Dorong Berita Positif
Dalam diskusi tersebut, Dr. Inge turut menyoroti peran media massa dalam membangun kesadaran publik mengenai bullying.
Ia berharap media tidak hanya memberitakan kasus-kasus negatif, tetapi juga memperbanyak informasi dan pemberitaan yang memberikan edukasi serta mendorong munculnya solusi.
“Media massa, pers, itu juga penting untuk mendorong berita baik. Karena kita sekarang ini bacanya kok kayaknya sedih-sedih melulu,” ujarnya.
Kegiatan Talk Show & Seminar Anti-Bullying ini juga diisi dengan penampilan spesial, seminar, open casting film, games, serta doorprize dan terbuka bagi pelajar SMP, SMA maupun masyarakat umum.
Melalui kegiatan tersebut, penyelenggara berharap kampanye anti-bullying tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat mendorong perubahan perilaku dan membangun lingkungan pendidikan yang lebih aman, sehat, serta saling menghargai.
Intinya, gerakan melawan bullying perlu dimulai sejak dini, diperkuat oleh guru dan lingkungan sekolah, serta didukung keluarga, media, dan masyarakat agar anak-anak Indonesia tumbuh menjadi generasi yang berani, sehat secara mental, dan saling menghargai.
Reporter Sri Supraptiningsih


