Simposium Nasional dan orasi kebangsaan  peringatan 99 tahun PNI  Refleksi Historis dan meneguhkan Marhaenisme untuk kedaukatan rakyat

CNusantara News.Com|Jakarta 25/7/2026 Semangat Marhaenisme dinilai masih sangat relevan sebagai pijakan dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa, mulai dari ketimpangan ekonomi, persoalan pangan, hingga dampak globalisasi. Pandangan tersebut mengemuka dalam Simposium Kebangsaan bertajuk “Refleksi 99 Tahun Partai Nasional Indonesia (PNI)”, yang menghadirkan akademisi, sejarawan, dan praktisi politik sebagai narasumber

 

Dalam pembuka’an diskusi ditegaskan bahwa Marhaenisme, yang diperkenalkan Bung Karno sejak pendirian PNI pada 4 Juli 1927, lahir sebagai gagasan untuk membela rakyat kecil serta mewujudkan kedaulatan bangsa. Memasuki usia ke-99 PNI, nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan sebagai landasan perjuangan nasional.

 

Sejarawan Prof. Dr. Asvi Warman Adam memaparkan aspek historis lahirnya Marhaenisme yang tidak dapat dipisahkan dari Kota Bandung. Menurutnya, Bandung menjadi saksi perjalanan intelektual dan politik Bung Karno, mulai dari masa kuliah di Technische Hoogeschool (kini ITB), pendirian PNI, hingga proses pengadilan kolonial yang melahirkan pidato pembela’an “Indonesia Menggugat”.

 

Ia juga menyoroti pentingnya Konferensi Asia-Afrika 1955 sebagai tonggak perjuangan anti-kolonialisme dunia. Arsip Konferensi Asia-Afrika maupun Gerakan Non-Blok telah diakui UNESCO sebagai Memory of the World. Karena itu, ia mendorong agar tokoh-tokoh yang berjasa menyukseskan Konferensi Asia-Afrika memperoleh penghargaan yang layak, termasuk pengusulan sebagai Pahlawan Nasional.

 

Sementara itu, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie menilai perjalanan PNI tidak dapat dipisahkan dari dinamika konstitusi Indonesia. Menurutnya, semangat Marhaenisme hanya dapat diwujudkan apabila nilai-nilai Pancasila dijalankan secara konsisten dalam sistem politik dan ekonomi nasional.

 

Ia mengkritisi praktik demokrasi liberal yang dinilai belum sepenuhnya selaras dengan semangat ekonomi gotong royong sebagaimana diamanatkan Pancasila dan UUD 1945. Menurutnya, bangsa Indonesia perlu kembali memperkuat jati diri ideologinya agar mampu menghadapi tantangan global secara lebih mandiri.

 

Dalam sesi diskusi, para narasumber juga melakukan evaluasi terhadap perjalanan organisasi PNI selama hampir satu abad. Mereka menilai PNI pernah mengalami pasang surut, baik dalam aspek organisasi maupun perjuangan politik. Karena itu, refleksi 99 tahun harus menjadi momentum pembaruan strategi perjuangan agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai dasar Marhaenisme.

 

Para peserta sepakat bahwa Marhaenisme bukan sekadar warisan sejarah, melainkan gagasan yang tetap relevan untuk menjawab persoalan kemiskinan, kesenjangan sosial, serta memperkuat kedaulatan ekonomi nasional.

 

Menjelang usia satu abad pada 2027, refleksi ini diharapkan menjadi momentum memperkuat kembali semangat kebangsa’an, gotong royong, dan keberpihakan kepada rakyat sebagai inti ajaran Bung Karno dan cita-cita perjuangan Partai Nasional Indonesia.

Reporter Sri Supraptiningsih

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *