Cnusantaranews.com / Jakarta – Ratusan ulama, zuama (pemimpin masyarakat), dan cendekiawan Muslim terkemuka di Indonesia hari ini mendeklarasikan sikap keras terkait eskalasi konflik di Timur Tengah. Dalam acara yang digelar di Ambara Hotel, Blok M, Jakarta(14/4/26) para tokoh ini mengecam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara, hukum internasional, dan hak asasi manusia.
Seruan ini dirilis di tengah suasana duka akibat tragedi kemanusiaan di Gaza yang belum usai, serta kemarahan atas serangan baru di Iran yang menewaskan lebih dari seratus anak-anak yang sedang belajar di bulan suci Ramadhan. Para penandatangan menilai alasan AS mengenai senjata nuklir Iran sebagai dalih superfisial yang mengulang kesalahan invasi Irak 2003.
Desakan Sanksi Tegas bagi AS dan Israel
Dalam deklarasi tersebut, para tokoh mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) beserta lembaga internasional terkait seperti Dewan Keamanan PBB, Mahkamah Internasional (ICJ), dan Pengadilan Pidana Internasional (ICC) untuk segera mengenakan sanksi tegas dan berat kepada AS dan Israel sebagai penyebab perang.
“Agresi yang dilakukan di bulan suci Ramadhan dan membunuh anak-anak adalah kejahatan kemanusiaan, kebiadaban, dan aksi teror nyata. Jika tidak dihentikan, ini berpotensi menyulut perang global yang menghancurkan peradaban,” ujar Prof. Dr. M. Dimyati Syamsuddin, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah yang hadir dalam deklarasi tersebut.
Para tokoh juga menuntut AS untuk menanggalkan arogansi, orientasi hegemonik, dan sikap standar ganda (double standards) dalam menyelesaikan konflik Israel-Palestina maupun konflik global lainnya.
Seruan Persatuan Umat Islam: Tolak Sekte Sunni-Syiah
Poin krusial lain dalam seruan ini adalah ajakan kuat bagi seluruh pemimpin negara Islam dan umat Muslim di dunia untuk mengedepankan persatuan (ukhuwah Islamiyah) dan menolak politik adu domba (divide et impera) yang memecah belah antara Sunni dan Syiah, atau antara Arab dan Persia.
“Selama kita bersyahadat, shalat menghadap kiblat yang sama, dan berpegang pada Al-Qur’an yang sama, maka kita adalah satu umat (ummatan wahidah). Perbedaan mazhab tidak boleh menjadi alat perpecahan di saat umat sedang terancam,” tegas deklarasi tersebut yang mengutip QS. Ali Imran 103 dan QS. Al-Anfal 46.
Para tokoh menyerukan agar segala sengketa internal diselesaikan dengan semangat kekeluargaan dan fokus pada pembelaan terhadap kemerdekaan Palestina serta penjagaan Masjid Al-Aqsa.
Membangun Aliansi Global untuk Kemanusiaan
Sebagai langkah konkret, para deklarator mengusung gagasan pembentukan “Aliansi Global untuk Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Gerakan ini bertujuan membangun tata dunia baru yang damai, adil, dan sejahtera, melampaui batas-batas sektarian.
“Kami adalah kelompok yang dapat disebut sebagai cikal bakal Aliansi Global untuk kemanusiaan yang adil dan beradab. Saatnya Dunia Islam melakukan introspeksi dan menjadi saksi sebagai Khaira Ummah (umat terbaik) di tengah krisis peradaban ini,” tutup Prof. Dimyati Syamsuddin.
Daftar Penandatangan Tokoh Nasional
Deklarasi ini ditandatangani oleh puluhan tokoh nasional lintas organisasi, termasuk:
Dr. H. M. Jusuf Kalla (Mantan Wakil Presiden RI & Ketua Umum DMI)
Prof. Dr. KH. Agil Siraj (Mantan Ketua Umum PBNU)
Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie & Prof. Dr. Mahfud MD (Mantan Ketua MK)
Dr. Lukman Hakim Saifuddin (Mantan Menag)
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (Mantan Rektor UIN & Ketua Dewan Pers)
Para Ketua Umum Ormas Islam (Muhammadiyah, NU, MUI, Persis, Al-Irsyad, Dewan Dakwah, Mathla’ul Anwar, dll).
Para Rektor Universitas Islam terkemuka dan tokoh perempuan Muslim (Aisyiyah, Muslimat NU, Salimah, dll).
Deklarasi ini diharapkan menjadi tekanan moral kuat bagi komunitas internasional untuk segera menghentikan pertumpahan darah dan mengembalikan martabat kemanusiaan di Timur Tengah.
Tentang Deklarasi Ulama dan Cendekiawan Muslim Indonesia
Ini adalah gerakan kolektif spontan dari para pemimpin agama, akademisi, dan tokoh masyarakat Indonesia yang peduli terhadap nasib kemanusiaan global dan perdamaian dunia, berbasis pada nilai-nilai Islam wasathiyah (moderat) dan konstitusi Indonesia.
Jurnalis
Sri.S

